DI TUTUP DENGAN PERLAHAN
Langit mendung mulai menampakkan cahaya matahari. Hujan gerimispun sudah mulai redah. Aku mengulurkan tanganku sehingga menghadap langit cerah.
Ketika yakin kalau sudah tidak akan ada lagi tetesan air yang akan membasahi tubuhku, aku menarik pergelangan tanganku lalu berjalan menengok langit berwarna biru cerah. Sudah 15 menit sejak aku menunggu kedatangannya didepan toko buku langgananku, wajah itu masih saja belum menampakkan senyumnya.
Sahabat lamaku, orang yang selalu megobati rasa sakitku, hingga membuatku lupa akan segalanya dengan mudah.
“ SARAH!! ” Aku menoleh kebelakang. Mendapatinya sedang berlari kearahku, tangannya melambai diudara. Menyapanya dengan senyuman manisnya seperti biasa.
“ YOH. REN. Kenapa kau lama sekali? ”
Dia menggaruk kepalanya asal. Sambil menyengir kuda khas saat dia sedang merasa bahagia ataupun malu, dia menunjukkan jam tangannya kearahku.
“ aku hanya meninggalkanmu selama 15 menit. Lagipula aku terlalu bingung saat memilih barang ditoko itu ” dia menunjuk sebuah toko accesoris yang berada disudut belokan, aku yang melihat kearah tangannya hanya bisa mengangguk ringan.
Kami mulai berjalan seperti yang biasa kami lakukan tiap harinya. Membicarakan sifat anak-anak dikelas, guru killer, pelajaran yang tak kami sukai, anime baru yang selalu kami tonton bersama, artikel mistery, tipe idaman, hingga kenangan saat kami masih berada dibangku kelas 8 smp. Kami selalu membicarakan banyak hal ditempat ini, selalu di jalanan yang memang sengaja dihias untuk penikmat jalan kaki seperti kami. Desain dikota ini terlalu menarik untuk dapat membuat kami bosan melewatinya.
Mataku melirik ke sebuah tas pelastik berwarna merah muda yang di gandengnya. Dia yang meyadarinya hanya tersenyum.
“ Lisa meminta untuk di belikan cincin dari toko itu, ” ucapnya dengan pandangan yang tak lepas dari jalanan didepannya.
“ romantis banget yah, yang baru jadi MR. Boyfriend. Bukan cuman Boy-Friend lagi, ” Candaku. Menertawai kelambatanku dalam menganmbil hatinya.
“ kenapa tidak kau cari saja satu ? ” dia tertawa lebar. Kali ini mengejek statusku yang kesepian.
“ cari apa? ” tanyaku berpura-pura bodoh.
“ pacar elah. Siapa tahu langgen, ” dia tertawa lagi, kali ini menularkannya padaku.
“ ahh. Aku sudah bosan bermain dengan mr.boyfriend, aku sedang mencari inspirasi tentang kesendirian untuk ku tuangkan kedalam novelku, ”
dan sialan, dia malah menyengir kuda. “ bosan di dua-in yah? ”
“ tau-ah. Resek, ” ujarku sebal.
Lagi-lagi dia tertawa. senyum jahilnya yang selalu dihiasi lesung pipit membuatku menahan nafas akibat ingin menarik dia ke dalam pelukanku. sebuah batas karena hubungan Sahabat ini terkadang membuatku sesak karena tak bisa bergerak lebih lepas. aku ingin menyudahi perasaan ini dengan semua upaya, tapi upaya yang ku lakukan terasa sia-sia. senyumannya sudah menjadi candu untukku dan untuk hatiku yang selalu menanti untuk berdetak lebih keras dan lebih menyakitkan lagi.
“ sorry, becanda aja boss, ”
“ lain kali BIGBOSS gak bakalan maafin kamu lagi.” Baiklah. Aku kekanak-kanakan.
“ hmm. Tapi aku serius kok, mau aku cariin? Aku punya banyak teman baik di sekolah. atau mau dari tim basket aja? Biasanya cewek suka sama cowok atletis-kan? ”
Aku menggerutu. Lalu memukul bahunya keras.
“ teman-temanmu itu tidak selevel denganku, ”
“ haahaha. Kalau kau mengenal mereka kau pasti akan menyukainya, ” Dia mendekatkan wajahnya kearahku, membuatku cemberut.
Bibir bentuk pelangi ini hanyalah buah dari rasa sesak yang ku tanam di dalam hati ini. buah yang ku harapkan tidak pernah ada yang menyadarinya, termasuk kamu yang membuatku berani menanam perasaan ini.
Aku kembali memukulnya. Kali ini 3 kali lipat lebih keras dari sebelumnya. Dia merintih kesakitan, sedangkan aku mempercepat langkahku. Membiarkannya tertinggal dibelakangku. Air mataku yang sempat meleleh segera ku seka, lalu berpura-pura menguap lebar agar menjadi bukti kuat untuk mengelak dari dugaannya.
“ hei-hei. Aku hanya bercanda,” dia mengejarku. Menyetarakan langkah kami.
“ terserah,” Jawabku ketus. Kali ini aku teringat akan Lisa yang selalu bersikap baik padaku, padahal dia tahu kalau aku selalu menghabiskan banyak waktu bersama pacarnya. “ apa kau tidak takut kalau Lisa bakalan curiga sama kita? Kita terlalu sering berjalan berdua. Kau seharusnya meminimalkan waktu kita bermain, ” ucapku mengatakan pendapatku.
Dia tertawa kecil. sama sekali tidak ada raut wajah khawatir diwajahnya. kau tahu itu adalah salah satu alasan aku menyimpan rasa sakit ini, kau menyatakan cinta pada seorang gadis saja, tapi kau masih bisa merasa baik-baik saja ketika membagi banyak waktu dengan hati yang berharap ini.
“ itu bukan masalah. Lagipula dia juga tahu kalau kita sudah bersahabat sejak smp, ” Aku terdiam dengan ucapannya.
“ bodoh, ” gumamku.
“ aku serius dengan ucapanku tadi, ”
“ aku tahu ”
“ dan satu lagi, ”
“ hmm? ” kami sama-sama memperhatikan jalanan. Tak ada yang memperhatikan satu sama lain seperti tadi.
“ ada temanku yang menitip salam, ” Ucapnya tiba-tiba. aku menahan nafasku dan menahannya dengan sebuah senyuman.
“ apa? ” aku menoleh seolah terkejut. yah memang. Sudah lama sekali sejak tidak ada yang menitip salam untukku.
“ Reza. Teman baksetku, dia suka sama kamu,” dia masih menatap jalanan. Aku menggerutu dengan sikap cueknya.
“ oh.. salam balik,” jawabku datar.
Dia terkekeh, membuatku sedikit jengkel.
“ tadi katanya temen-temenku gak ada yang selevel sama kamu, ”
“ emang gak ada, ”
“ tapi aku yakin, kamu pasti suka sama dia, ”
kau tidak tahu betapa sakitnya hati ini ketika kau menyuruhku untuk menarik akar perasaanku dari mu. lalu kau menyuruh akar yang tumbuh karena kebersamaan ku denganmu di tanam lagi di dunia orang lain yang asing. di tempat yang tidak pasti, apakah perasaan itu akan terus hidup dan tumbuh subur atau akan mati layu.
“ ho—oh. Terserah, ” jawabku ringan.
Sudahlah, aku rasa sudah cukup aku mengambil waktunya. Sekarang dia juga harus bersenang-senang dengan orang yang dia suka. Tuhan, aku hanya bisa curhat pada-Mu tentang perasaan ini. Jika aku salah tentang perasaan ini, biarkan aku melupakannya secara perlahan.
Biarkan luka ini tertutup secara sempurna, agar tidak ada lagi flashback atau semacamnya. Karena akan mustahil jika aku terburu-buru menghapus perasaan ini. Karena hatiku ini seperti kertas, jika menghapus terlalu cepat dan keras, maka hatiku akan tergores dan tak bisa kembali seperti semula. Jadi aku butuh waktu.
“ AWW, ” pekikku ketika seseorang menarik rambutku dari belakang.
“ yang terakhir sampai ditoko ice-cream akan mentraktir ice-cream sepuasnya, ” teriaknya seraya berlari secepatnya. Meninggalkanku yang sempat bengong dibelakang.
“ AWAS KAU YAH.. kemari kau!! Aku akan membotakkan rambutmu itu,, YAKK.. kau curang.. aku tidak membawa dompetku.. HEEII,, TUNGGU AKUU!!! ” teriakku sambil berlari sekuat tenaga.
Biarkan aku menutup lembaran ini secara perlahan.

Komentar
Posting Komentar